Pentingkah Kajian Kelimuwan Untuk Mahasiswa ?

“Untuk apa saya ikut kajian itu? Apakah kajian semacam itu akan membuat saya jadi lebih mudah mendapat kerja?” Jawaban tipikal dari mereka membuat hati saya hancur. Sebagai aktivis Masjid yang seharusnya lebih melek agama, mereka tentu tahu bagaimana bertebarannya hadits ihwal keutamaan menuntut ilmu dari Rasulullah Muhammad saw? Lalu, kenapa mendadak mereka jadi apatis dan pragmatis seperti ini? Salah siapa ini? Pendidikan? Lingkungan? Jurusan favorit? Pola hidup binatang ternak yang disindir dalam QS Al-An‘am? Atau apa?

Lagi pula, dari ribuan mahasiswa yang pernah mampir ke Masjid ini, masa sih semuanya adalah para calon profesional kantoran? Tidak adakah para calon ilmuwan? Tidak adakah para pembelajar yang tetap ingin belajar dan terus belajar meskipun kerja kantoran? Apakah hal semacam ini yang membuat Islamisme sempat subur di kalangan aktivis mahasiswa Masjid Salman?

Long live industrial culture!!!

Nah, tadi, dini hari, saya menonton “Miracle Hospital” di National Geographic. Saya melihat kerja para dokter di RS St. Vincent. Gila! Itu ilmuwan atau dokter sih? Mereka mempelajari setiap kasus baru yang ditemuinya, mendiskusikannya, dan mendapat pengetahuan baru dari sana.

Saya jadi teringat cerita istri yang mengadu bahwa sebagai mahasiswa doktoral dari negara dunia ketiga, dia merasa tertinggal jauh dari para mahasiswa doktoral yang, nota bene, adalah Wong Londo. Mereka sudah lama hidup dalam tradisi pendidikan yang menekankan pentingnya pemahaman keilmuan, terdidik untuk biasa membaca banyak buku, terlatih menuangkan gagasan dalam tulisan, serta cara belajar yang kayak paket JNE, yaitu YES (Yakin Esok Sampai). Istri tercinta yang cantik jelita itu merasa keteteran.

Lalu saya teringat pada nasihat dari Mursyid Penerus, sebagai berikut: “Orang Melayu yang tak bisa berbahasa Arab, lalu harus mempelajari bahasa tersebut bertahun-tahun untuk bisa memahami agamanya tentu akan mendapat ganjaran lebih besar dari Allah Ta‘ala daripada mereka yang terlahir sebagai orang Arab dan sudah bisa bicara dalam bahasa Arab sejak kecil. Kenapa? Sebab orang Melayu tadi berjuang dua kali lebih berat dari orang Arab asli tadi. Mereka harus bisa bahasa Arab dulu sebelum kemudian bisa membaca kitab-kitab berbahasa Arab tersebut.”

Salamku untuk para pembelajar di mana pun Anda berada.

 

You May Also Like

About the Author: PBN089

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *